Thursday, 19 September 2019 | 01:06 AM

Sainstek
07 March 2018,04:44 AM

Bangkanews.id - Pangkalpinang, Studi Kukang di Pulau Bangka pada akhirnya dilakukan setelah sekian lama tidak dianggap. Primata malam dengan nama spesies Nycticebus Bancanus ini diketahui sedang dilakukan studi ekologi dan populasinya di Pulau Bangka untuk pertama kalinya oleh Randi Syafutra, penggiat konservasi satwa Pulau Bangka.

Randi mengatakan kepada awak media bangkanews.id, Rabu ( 07/03/2018 ) bahwa kukang di Pulau Bangka sudah sangat jarang terlihat di alam akibat maraknya konversi hutan sebagai habitat kukang menjadi areal tambang timah inkonvensional (TI) dan perkebunan sawit, serta perburuan dan perdagangan.

" Berdasarkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), kukang telah masuk dalam daftar Appendix I yang berarti bahwa segala bentuk perdagangan kukang adalah terlarang " ungkapnya.

Studi yang dilakukan oleh lulusan S2 Primatologi Institut Pertanian Bogor (IPB) ini telah dimulai pada September 2017 dan selesai pada November 2018, serta didukung oleh The Mohamed bin Zayed Conservation Fund (MBZCF), F2B (Flora Fauna Bangka), ALOBI (Animal Lover of Bangka Island), dan PROFAUNA-Indonesia (Protection of Forest and Fauna-Indonesia).

" Studi ini sangat penting dilakukan dikarenakan dapat memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai karakteristik habitat dan distribusi kukang di Pulau Bangka " imbuhnya.

Kegiatan edukasi konservasi kukang pada masyarakat lokal dan pelajar dengan harapan dapat meningkatkan kepedulian mereka terhadap kukang. Sebelum melakukan studi ekologi dan populasi kukang, Randi telah melakukan studi ekologi dan populasi mentilin (Cephalopachus bancanus bancanus) di Pulau Bangka yang didukung oleh The Rufford Foundation.

( HD )

Komentar Anda