Tuesday, 25 June 2019 | 03:35 AM

Trending News
10 June 2019,07:19 PM

BangkaNews.id -- Pangkalpinang ketua DPRD Bangka Belitung (Babel) melakukan respon cepat terkait aspirasi masyarakat, khususnya para petani sawit mengeluhkan turunnya harga pasca Lebaran kemarin. Sementara harga karet belum kunjung naik seperti di Sumatera Selatan (Sumsel).

Hal ini diutarakan langsung oleh Ketua DPRD Babel Didit Srigusjaya dalam rapat Badan Musyawarah (Banmus) bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Babel yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Yan Megawandi.

"Jadi banmus ini ada beberapa agenda penting yang kita sampaikan untuk di-follow up, salah satunya masalah harga sawit yang menurun dan harga karet yang tidak naik-naik tapi di provinsi lain sudah mulai naik," jelasnya.

Didit menyampaikan, berdasarkan informasi yang ia terima bahwa harga tandan buah segar (TBS) sekarang hanya dihargai Rp600 yang dinilainya tidak sesuai dengan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang TBS.

"Disini kami ingin minta penjelasannya. Sebab DPRD Babel tidak akan pernah berputus asa untuk dapat menstabilkan harga sawit dan karet, karena dua komoditi ini lah yang menjadi andalan masyarakat kalau memang kita ingin menghidupkan tingkat daya beli masyarakat Babel," tukasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pertenakan (Distannak) Babel Juadi mengaku belum mengetahui harga TBS sawit untuk saat ini karena belum mendapatkan data perhitungan TBS sawit. Namun untuk di bulan Januari hingga Mei, disebutkan Juadi, harga TBS sawit cenderung meningkat.

"Untuk bulan Juni kami belum terima. Tapi berdasarkan perhintungan data TBS yang kami himpun  untuk lima bulan terakhir ini kecenderungan angkanya tentu meningkat. Dari bulan Januari, harga TBS kita di angka Rp1.200 dan pada Mei kemarin sudah di angka Rp1.300. Jadi memang kalau harga yang disepakati dari beberapa pabrik kelapa sawit harga-nya meningkat," ujarnya.

Namun, disebutkan dia, bahwa angka di tingkat petani mandiri memang sekarang di angka Rp1.000 sampai Rp1.100 lantaran belum mengimplementasikan Pergub yang mewajibkan para petani sawit harus tergabung dalam koperasi. "Tapi target kita 2-3 bulan ini semua petani sawit sudah tergabung dalam koperasi yang menjadi LO pabrik sawit," ungkapnya.

Untuk karet, dijelaskan Juadi, pihaknya melihat ada kelemahan untuk menaikkan harga karet yakni minimnya keberadaan Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (bahan olah karet rakyat) di Babel tidak seperti di Sumatera Selatan (Sumsel)

"Di Sumsel kecenderungannya ada kelebihan  karena disana UPPB-nya sangat banyak dan sudah ada kerjasama antara UPPB dengan kementerian PUPR untuk mencampur karet ke aspal, kalau kita belum mengarah kesana. Mungkin ini perlu kita lanjuti ke depan mengkolaborasikan karet dengan aspal," jelasnya.

Oleh karena itu, menurut Juadi perlu ada dukungan dari APBD Babel untuk meningkatkan keberadaan UPPB di Babel. Sebab selama ini Babel hanya mengandalkan dukungan dari APBN yang mendapatkan alokasi 2-3 UPPB per tahun.

"Jadi saya pikir perlu juga dukungan dari APBD kita untuk mempercepat unit pengolahan ini sehingga nanti dengan UPPB ini akan meningkatkan harga karet disertai dengan kualitasnya," imbuhnya.( red )

Komentar Anda