Sunday, 12 July 2020 | 09:58 AM

Bangka Tengah
28 December 2019,02:50 PM

BangkaNews.id, Bangka Tengah - Warga Dusun Pantai Batu Belubang, Desa Batu Belubang, Kabupaten Bangka Tengah, mempunyai cara tersendiri mensyukuri hasil laut. Yakni lewat upacara adat Syukuran Pantai, tradisi masyarakat nelayan yang digelar di setiap penghujung tahun.

Sejak pagi sekitar pukul 09.00 Wib, warga sudah memadati pelataran Pasar Ikan Desa, Rabu (25/12/2019). Dari rumah masing-masing, mereka berduyun-duyun berjalan menuju tempat acara, dengan mengenakan pakaian adat Bugis berupa  baju Tutu (pria) dan baju Bodo (wanita).

Kesenian rebana dan pencak silat menyambut kehadiran para tamu yang sengaja diundang khusus oleh warga. Beberapa tamu penting menerima penyematan kain sarung yang dikenal dengan sebutan lippa garusuk dan penutup kepala songkok recca dari serat pelepah daun lontar.

Menjelang siang, acara pun dimulai. Diawali tarian Paduppa yang ditarikan enam penari gadis Bugis dalam menyambut tamu. Sampailah pada puncak acara untuk melarung miniatur kapal pinisi yang menjadi simbol nelayan tangguh suku Bugis dalam mencari ikan di laut.
Prosesi pembacaan doa sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil ikan yang diperoleh nelayan selama setahun, dilakukan sebelum miniatur pinisi digotong warga menuju ke tengah laut.

Iring-iringan perahu nelayan mengawal perahu utama yang membawa miniatur kapal pinisi dan kembang tujuh rupa.

Tiba di tengah laut, para tetua adat dan tamu penting berdoa sejenak memohon keselamatan agar warga nelayan diberikan keselamatan dan hasil melaut yang melimpah ruah pada tahun depan. Kemudian miniatur perahu pinisi dilepas ke laut searah mata angin.
Selanjutnya dilakukan tabur bunga tujuh rupa di dekat miniatur pinisi yang sudah dilarung.

Setelah upacara, warga pun kembali ke daratan untuk melakukan siammasei, yaitu ramah tamah dan makan bersama menu masakan Bugis seperti sop konro dan burasa serta cumi dan ikan bakar.

Ketua Adat Bugis Desa Batu Belubang, Fuang Bakar (70), menyebutkan kegiatan upacara adat ini memang menjadi agenda tahunan sejak 1980-an.

"Tradisi Syukuran Pantai ini sebagai wujud syukur warga nelayan atas hasil melaut dalam setahun. Sekaligus juga untuk memperkuat hubungan silaturrahmi warga Bugis di tanah rantau," ungkapnya.

Dia mengatakan, upacara adat ini sejak dulu sudah dilakukan oleh masyarakat Bugis yang tergabung dalam sebuah lembaga Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), bersama warga Melayu yang merupakan penduduk asli desa setempat. Kedua etnis selalu hidup berdampingan dalam nuansa kerukunan dan kebersamaan, terutama masa pemerintahan Kepala Kampung Abu Bakar Atew. 

Beberapa hari sebelum melakukan puncak upacara adat, semua anggota masyarakat bergotong royong membersihkan lingkungan sekitar pesisir pantai. Warga juga membuat baruga (gerbang) adat yang disebut lawa soji atau wala soji.

Lawa Soji adalah anyaman bambu yang bermotif segi empat belah ketupat atau sulapa eppa, sebagai simbol empat susunan semesta (tanah, angin, air dan  api) serta penjuru mata angin.

Pembuatan gerbang adat yang memiliki makna sebagai pagar penjaga bagi adat Bugis, dilakukan warga secara bersama-sama dan dipandu oleh seorang tokoh adat.

Mendekati hari puncak upacara adat, dilakukan penyembelihan seekor sapi. Daging sapi inilah yang akan menjadi salah satu menu hidangan siammasei seluruh masyarakat yang hadir. Kegiatan masak-memasak pun dilakukan secara bersama di beberapa rumah warga.

Untuk menyukseskan penyelenggaraan upacara adat ini, masyarakat secara sukarela memberikan sumbangan dalam bentuk uang dan barang. Selain itu, para donatur dan sponsor ikut andil dalam memberikan kontribusinya. Bahkan pemerintah daerah baik Provinsi Babel maupun Pemkab Bangka Tengah turut mendukung pelaksanaan kegiatan ini.

"Kita sangat mendukung kegiatan pelestarian adat-istiadat masyarakat di Bangka Tengah, dan ini perlu support dari semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah, termasuk kepedulian dunia usaha," kata Bupati Bangka Tengah, Ibnu Saleh.

Ia menegaskan, kearifan lokal yang tumbuh harus masyarakat harus tetap lestari seiring perkembangan zaman. Ini bertujuan agar generasi muda dapat mengenali adat-istiadatnya sendiri sebagai pembentuk karakter luhur sebuah komunitas masyarakat.

"Jadilah masyarakat yang selalu berpegang pada adat, karena di dalam adat terkandung aturan dan norma yang baik," pinta Ibnu Saleh.

Kegiatan yang berlangsung Rabu (25/12/2019) itu diikuti ratusan nelayan dan dihadiri para pejabat sipil dan militer, termasuk Pengurus Lembaga Adat Melayu Babel Datuk Akhmad Elvian, serta Kepala Dinas Pariwisata fan Kebudayaan Provinsi Babel Rivai, mewakili Gubernur Babel. (IM)

Komentar Anda