Sunday, 31 May 2020 | 08:00 AM

Nasional
07 March 2020,04:18 PM

BangkaNews.id, Bogor -- Ratusan warga bergotong royong dengan satuan tugas (satgas) rehabilitasi lahan untuk menanam tanaman vetiver dan tanaman keras di lahan kritis di beberapa titik wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat dan Lebak, Banten, Sabtu ( 7-03-2020 ).

Sebanyak 383 warga melakukan aktivitas pemecahan dan perhitungan bibit vetiver sebelum melakukan penanaman di wilayah Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dalam satu hari, bibit vetiver yang ditanam warga dan satgas berjumlah 25.400 batang, sedangkan tanaman keras 3.970 batang. Di samping itu, mereka melakukan penambahan bibit vetiver di polybag hingga Jumat (6/2) sebanyak 66.415 batang.

Penanaman diprioritaskan pada kawasan lahan kritis yang beberapa waktu terkena dampak longsor. Luas lahan di sektor I yang sudah ditanam mencapai 347.345 meter persegi dengan total bibit vetiver yang ditanam 234.447 batang, sedangkan tanaman keras berjumlah 46.255 batang. 

Satgas rehabilitasi berjumlah 117 personel dari unsur TNI 107 dan Polri 10.

Pada sektor II atau kawasan Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, 382 warga masyarakat menanam 10.000 bibit vetiver. Warga yang dibantu 118 personel dari satgas rehabilitasi telah menanam bibit pada lahan seluas 5.940 meter persegi hingga kemarin (6/2). Sektor ini masih memiliki stok bibit vetiver 10.000 batang untuk terus ditanam di kawasan lahan kritis.

Sementara itu, sektor III atau di kawasan Kabupaten Lebak, Banten, 140 personel TNI dan Polri bagian dari satgas dan 500 warga menanam 36.604 batang vetiver. Di sisi lain, mereka juga melakukan pendistribusian bibit melalui dua rumah bibit untuk kawasan Kampung Ciwiru, Kecamatan Ciwiru, Lebak. Saat ini bibit tersisa sejumlah 15.409 batang.

Kawasan yang sudah ditanam di Kabupaten Lebak seluas 153.570 meter persegi dengan bibit ditanam sebanyak 137.998 batang.Tidak hanya rumput vetiver, tetapi tanaman kerja juga ditanam yaitu jenis sengon, pulai, trembesi dan tapang laut. 

Beberapa waktu lalu, Kepala BNPB Doni Monardo menjelaskan bahwa pengendalian banjir dan longsor harus dilakukan secara holistik, yaitu tidak hanya memperhatikan satu bagian saja tetapi kawasan hulu, kawasan transisi dan hilir. Penanaman bibit vetiver maupun tanaman keras lain diprioritaskan pada kawasan hulu. Namun, rekayasa fisik pun juga dibuat untuk mengatasi banjir yang berdampak di wilayah Jabodetabek. 

Di wilayah Jawa Barat, pengendalian daerah aliran sungai (DAS) juga berperan untuk upaya mitigasi maupun pencegahan banjir dan longsor. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa lahan kritis di hulu DAS sebagai berikut, total lahan kritis di DAS Ciliwung, Cisadane dan Bekasi mencapai 56.211 hektar. Lahan kritis tertinggi di kawasan DAS Cisadane dengan total lahan kritis 34,768 ha, Bekasi 16.108 ha dan Ciliwung 5.335 ha. Di sisi lain, KLHK memantau adanya erosi di hulu DAS dengan kategori sedang hingga sangat berat. Total kawasan yang mengalami erosi seluas 83.458 ha dengan rincian DAS Cisadane 53.596 ha, Bekasi 19.648 ha dan Ciliwung 10.214 ha.

Di samping itu, menurut Doni bahwa alih fungsi lahan sangat berpengaruh terhadap karakteristik lahan yang tidak mampu lagi menangkap air hujan. Kawasan yang berubah menjadi lahan pertanian atau perkebunan dapat menjadi salah satu pemicu banjir dan longsor di wilayah Kabupaten Bogor dan sekitar. (R2/Red)

Komentar Anda